28 Oktober Tahoen 1928 Di Negeri Djakarta

Pertama: kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satu, tanah Indonesia.
Kedoea: kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe berbangsa jang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia…"
28 Oktober 1928 di Kramat Raya 106 Jakarta. Sudah lebih dari 70 tahun yang lalu, saudaraku… Tanpa moment itu mungkin perjalanan bangsa ini akan berkisah lain.
Sumpah Pemuda, sebuah tonggak penting, yang tiga tahun sebelumnya, terkonsep dalam Manifesto Politik 1925. Dengan digagas oleh Perhimpunan Indonesia, Manifesto Politik merumuskan konsep nasion Indonesia, demokrasi, unitarianisme, otonomi dan kemerdekaan. Prinsip-prinsip nasionalisme di dalamnya mencakup unity, liberty, equality (persatuan, kemerdekaan dan persamaan).
Qu’est-ce qu’une nation? Apakah Bangsa Itu ? Bangsa itu adalah hasil historis yang ditimbulkan oleh semua deretan kejadian yang menuju ke satu arah. Setelah menguraikan masalah ras, bahasa, agama, persekutuan kepentingan bersama, keadaan alam, Renant pun menyimpulkan bahwasanya ‘bangsa ‘ merupakan keinginan untuk hidup bersama (le desir de vivre ensemble).
Bangsa seperti individu-individu, merupakan hasil masa silam yang penuh usaha, pengorbanan, dan pengabdian. Jadi bangsa adalah suatu solidaritas besar yang terbentuk karena adanya kesadaran. Kesadaran bahwa orang telah berkorban banyak dan bersedia untuk memberikan pengorbanan lebih jauh lagi.
Pada era sekarang, ditengah carut marut dan merosotnya kondisi bangsa kita, masih jauhkah kita dari kedua tonggak tersebut ? Atau mungkin seberapa dekatkah kita dengan gagasan mulia itu ?
Masih tepatkah kita mengaku bertumpah darah satu, sementara kenyataan disekeliling kita lebih banyak menunjukkan ketidakpekaan sosial ? Masih tepatkah pengakuan berbangsa satu, sementara kenyataan disekitar kita banyak yang menunjukkan bahwa betapa mudahnya perbedaan dapat menyulut pertikaian ? Masihkah kita memegang janji menjunjung bahasa persatuan bila ternyata keadilan tidak banyak berbicara di negeri ini ?
Dalam perjalanan sejarah bangsa kita, lahirlah Sumpah Pemuda 1928, Manifesto Politik 1925, Pancasila dan bahkan Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki jiwa atau “ruh” yang sama : yaitu menghargai MARTABAT MANUSIA.
Ya, negeri ini lahir dari semangat menghargai martabat manusia, semangat memanusiakan manusia. Sesuatu yang hingga kinipun kita masih harus terus mempelajarinya. (Coba lihat wakil rakyat kita… dan mungkin juga warga kita.. dan juga diri saya sendiri…)
Dalam skala kecil, dari diri sendiri, semangat sumpah pemuda bisa kita wujudkan. Dan kemudian ajaklah sobat kita untuk melangkah bersama… Setidaknya, bisa lewat blog..
Sejarah bangsa kita tidak lepas dari kuatnya peran budaya dan kebiasaan baca-pikir-tulis. Begitu pula kebiasaan blog yang tak lepas pula dari serangkaian proses baca-pikir-tulis…dan kemudian berbagi pemikiran…
Selamat menikmati ruh Sumpah Pemuda !
Semoga dapat menghidupinya !
Semoga (tulisan naif ini dapat) bermanfaat ..
OOT : Baru tahu kalo kakek dari Dian Sastrowardoyo, adalah Sunario Sastrowardoyo (Prof Mr Sunario Sastrowardoyo), seorang tokoh Kongres Pemuda 1928, wafat 1997. Beliau adalah satu-satunya tokoh Manifesto Politik 1925 yang juga menjadi tokoh Kongres Pemuda 1928 tersebut.
Prana Luar :
- A Umar Said,
MENYONGSONG HARI SUMPAH PEMUDA DENGAN JIWA BARU - Happy Susanto,
Kebangkitan Demokrasi, dan Indonesia Baru - Asvi Warman Adam,
Sunario, Tokoh Sumpah Pemuda dan Manifesto Politik 1925 - Tommy Su,
Mewujudkan Sumpah Pemuda - Benny Chandra,
Etnis Tionghoa Dan Semangat Sumpah Pemuda
Berbagi :
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://doeljoni.blogsome.com/2005/10/10/23/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>