Son Go Kou

Konon dalam kisah tersebut, Son Go Kou, adalah bangsa saiya. Bangsa yang memiliki budaya tempur sepanjang sejarahnya. Diceritakan, bahwa aslinya, Son Go Kou memiliki nama Kakarotto. Dia bukanlah berasal dari kaum elite - bangsawan - di planetnya. Ini membuat nasibnya gak semujur Vegeta, musuh sebangsa yang pada akhirnya menjadi ‘keluarga’ bumi Son Go Kou. Cerita berjalan. Walau pada awalnya memiliki kemampuan pas-pasan, namun dengan ketekunannya berjuang, ia berhasil melampaui keterbatasannya.
Serunya lagi,… kalo abis KO terus bangkit lagi dengan kekuatan berlipat-lipat. Hahahaha… kaaaaameeeehameeehaaa…. !!!
Sedikit saya pikir-pikir,.. wah,.. kisah Dragonball itu bisa menjadi sebuah pendekatan yang sederhana tentang isi pelajaran Adversity Quotient. Buku yang membahas tentang kemampuan seseorang menghadapi masalah dan tantangan.

Ada tiga kelompok ‘pendaki gunung’ dalam buku itu. Semuanya membawa ransel yang toolsnya komplet. Yang pertama begitu melihat tingginya gunung dan sulitnya medan, malah gak jadi naik, batal. "Wah sulit banget, resikonya gede…" Kelompok yang kedua milih naik sebentar, terus kemping dan malah bikin perkampungan. Karena tempatnya enak jadi lupa untuk naik lagi. Dan kelompok yang ketiga naik terus sampe kepuncak. Gak mampir-mampir ke tempat yang enak seperti kelompok kedua. Terus berjuang keras mendaki. Dan kemudian,..be the champions. Dipuncak tinggal foto-foto, nancepin bendera, pulang dijemput helikopter. Sebuah karpet merah terbentang sesampainya di kota. Beberapa wartawan mewawancarainya, masuk majalah (dan ngeblog kalo sempat
) ).
Yah itu narasi yang ada buku tersebut.

Bandingin antara dua narasi diatas ? Mananya yang bakal menyedot perhatian ’si boy kecil’ yang udah kecanduan kartun ?
Hahaha… ternyata kompromi harus dilakukan. Pengajaran dan pembelajaran, pendidikan membutuhkan cara berdialog dan komunikasi yang tepat, efektif dan efisien. Saya cuman bertamu kedalam dunia si boy kecil, dan Go Kou bisa bercerita tentang AQ, mengajarinya supaya pantang menyerah …
Asyiknya menjadi Oom jaman sekarang…
(dan semoga ’si boy’ gak keracunan tingkah genitnya kakek Kamesenin - Mutenroshi - yang ganjen kalo liat cewek hahahha…
)
Berbagi :
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://doeljoni.blogsome.com/2005/10/24/son-go-kou/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>