Single Point of Failure
Beberapa minggu yang lalu saya ketiban sampur, ketiban tugas memberesi serangkaian ‘hajat’. Bukan ‘hajatan’ biasa, karena targetnya ndak boleh gagal. Kalau gagal pasti benjut digebukin teman-teman. Selain itu juga rentang waktunya ndak ideal banget. Lumayan mepet-mepetnya.

Idealnya, jarak antara ‘hajatan’ bermula hingga tuntas, lamanya hampir sama dengan penganten mulai resepsi sampai punya anak sendiri. Harusnya gitu. Tapi juragan yang punya hajat cuman kasih waktu sepertiganya. Hehehe… jadi pusing nih….
Terus terang saya ndak mau benjut gara-gara hajat ini ndak sukses. Untuk menghindari tragedi kegagalan maka serangkaian rencana pun buat. Target yang diberikan, dipecah-pecah menjadi beberapa target-target kecil. Termasuk alternatif rencana lain. Rencana A,B,C dan seterusnya. Nanti kalo rencana A gagal, langsung pake rencana B. Kalo B gagal, pindah ke C. De es te…
Begitulah, waktu berjalan dan rencanapun bergulir. Ngelakoni memang ndak semudah perkiraan sebelumnya. Di lapangan kondisinya berbeda banget. Ada unsur-unsur lain yang terlibat, terutama bangsanya hal-hal yang bukan teknis.
Ibarat ramuan jamu, resep A,B,C sampe ZZZ ndak ada yang cocok. Sampai mbok jamunya mumet, pasiennya ndak juga singset-singset.
Hingga beberapa hari kemarin, seorang wadyabala datang dan mengacak-acak tumpukan kertas rencana yang tertata rapi di atas meja kerja. Dia minta dibantuin bikin rencana infrastruktur database yang murah meriah dikantornya. Cukup dengan satu server, satu router, satu link internet. Semua serba satu. Ndak butuh backup, failover, disaster recovery. Kalo ada yang problem ya udah. Mati. Pet. Mandeg, sampe ada penggantinya.
Teman-teman di kantor menyebutnya sistem yang single point of failure.
Rasanya analogi single point of failure berlaku pada ‘hajatan’ yang sedang saya urus, walaupun ndak 100% mirip. Ada satu titik penyebab ndak cocoknya rencana-rencana yang sempat saya buat. Walaupun rencana alternatifnya banyak, namun masih tetap dibangun dari dasar asumsi yang nyaris sama. Sehingga antara rencana yang satu dengan yang lain ndak saling menutupi titik lemah. Kesamaan dasar asumsi ini memunculkan jebakan single point of failure. Konyolnya, saya ndak menyadari itu sebelumnya, hehehe…
Ndak papa, wong baru jalan beberapa minggu. Masih belum terlalu terlambat melakukan koreksi.
Berbagi :
1 . Comment by budiw — September 8, 2006 @ 9:46 am
wah.. pasti proyekan gedhe iki.. kalo butuh ramuan madura calling saya yah.. atau tinggal apt-get install ramuan_madura aja…
–budiw
2 . Comment by Dedhi — September 8, 2006 @ 11:13 am
Bukan Single Point Failure, tapi SPOF : Single Point of Failure
3 . Comment by Tajid — September 10, 2006 @ 2:01 pm
Mas.. kata orang tua jaman dulu .. :nekat pangkal kaya..”
4 . Comment by kus — September 10, 2006 @ 8:30 pm
maap , bukannya mau lancang tapi maap , maap saya tidak menemukan korelasi antara hajatan sama desain kapal selam, mbok- mbok penjual jamu gendong dan jalan kampung
maap
5 . Comment by ambar — September 22, 2006 @ 5:57 pm
Cak Doel, maaf sy barusan balik indonesia krn urusan keluarga. Untuk pertanyaan ttg Dublin ntar aja dulu ya…
6 . Comment by ario dipoyono — September 30, 2006 @ 4:14 am
salam kenal yah…… met puasa
7 . Comment by medon — October 5, 2006 @ 1:13 am
proyek kelar makan-makan dimana nih boss?
8 . Comment by medon — October 5, 2006 @ 1:18 am
setelah proyeknya kelar mo makan-makan dimana nih boss?
9 . Comment by Epat — October 12, 2006 @ 8:34 am
Long time….
pindahan mrene toh ternyata :-D
10 . Comment by thuns — March 28, 2007 @ 9:50 am
#9 : iyah nih… ternyata pindahan kesini toh
dah gitu langsung ketemu postingan proyekan lagi…
asyiiik… makan makan…
11 . Comment by juragan — August 3, 2007 @ 6:34 pm
proyek teru…..s sampe lupa ngurusin blog
12 . Comment by juragan — August 3, 2007 @ 6:35 pm
proyekan terus, lupa ama blognya bos?