Semanggi Surabaya

Pernah `ngidam` kepengen makan yang aneh-aneh ?

Yak,.. kemaren saya ngiler berat sama menu aneh yang disebut Semanggi Surabaya.

Lah kenapa aneh ? Karena sudah jarang ditemui.

Semanggi, sebagai bahan utama menu tersebut, sudah kian tipis lahan hidupnya.

Lah gimana nggak habis, la wong yang pada punya duit itu pada gak tahan lihat ada tanah nganggur.

Lihat dikit ada yang nganggur pasti udah dibangun jadi gedung atau sarana blah-blah-blah…

Padahal disitulah habitat tumbuhnya semanggi.

Sekarang, mana bisa semanggi tumbuh ? Lha wong beton semua.

Jangankan semanggi, wong namanya air aja bingung mau ngalir kemana …

Akhirnya ngalir ke jalan raya.

Banjir,.. hehehe….

"Kalo nggak ada semanggi, terus penjual semanggi gimana nasibnya ?"

Ya ganti profesi, atau bila ingin tetap bertahan jualan semanggi suroboyo, ya harus susah payah. Cari terus,.. bahkan sampai ke Gresik.

Kalau dipikir-pikir, ya… apa ya setimpal antara effort dengan profitnya ? Berapa sih harga seporsi (se-pincuk) semanggi suroboyo?

Hehehe… makanan asli Surabaya tapi bahan dasarnya nemu di Gresik..

***

Siang ini saya beruntung, karena ngidamnya terpenuhi. Meski tak bertemu bakul semanggi pikul, namun ketemu resto (atau lebih tepatnya warung rumahan) yang menyediakan menu semanggi Suroboyo.

Murah, cuman 5 ribu perak seporsi.

Tempatnya di Jl Mayjen Sungkono 23, Surabaya.

Nama resto-nya : "Lontong Rajawali" (Emang rajawali punya lontong ?).

Lebih asyik lagi,.. disana tersedia lontong balap plus sate kerangnya. Mitosnya, itu bisa bikin pria tambah joss… hohoho… katanya sih…

Jadi,… saya pesen sate kerang 20 tusuk dan lontong balap juga… whahahaha…

Manteb, Cak !

Lontong Rajawali


Berbagi :
Tambahkan Semanggi Surabaya Tambahkan Semanggi Surabaya Tambahkan Semanggi Surabaya Tambahkan Semanggi Surabaya Tambahkan Semanggi Surabaya Tambahkan Semanggi Surabaya Tambahkan Semanggi Surabaya

6 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://doeljoni.blogsome.com/2008/02/21/semanggi-surabaya/trackback/

  1. 1 . Comment by geblek — February 22, 2008 @ 6:06 am

    Gravatar Image   

    harusnya malam tadi kamu makin jos cak
    brp ronde, saya tnggu laporannya

  2. 2 . Comment by devie — February 22, 2008 @ 9:21 am

    Gravatar Image   

    kadang, di depan kosan di kertajaya, masih ada ibu ibu yang keliling jualan semanggi. kata beliaunya seh, semangginya nanem sendiri, beli di keputran kagak ada katanya.

  3. 3 . Comment by Affan — February 22, 2008 @ 11:23 am

    Gravatar Image   

    Wah mau dong makan semanggi, kemarin ke surabaya belum keturutan, nggak tahu vendor provider semangginya ada di mana yang lokasinya fixed.

    Kalau yg dimaksud lontong rajawali itu kayaknya forking (buka cabang) dari warung lontong balap di jalan rajawali deket jembatan merah. Warung itu sudah buka dari tahun 1956 (ngeri gak situ ??) dan asli muaknyusss…

  4. 4 . Comment by dadan — February 22, 2008 @ 2:18 pm

    Gravatar Image   

    @1,geblek
    hush!

    @2,devie
    budidaya sendiri ? huik… waktu tumbuhnya semanggi VS waktu produksi menu semanggi suroboyo emangnya bisa klop ?

    @3,affan
    - Ntar kalo ente kemari lagi, kontak saya deh. Saya anterin hehehe….
    - Jembatan Merah ? Wadow… jauhnya…. Sore makan disana, malemnya dinner di KyaKya… hehehe
    Saya malah belum ke Lontong Balap Rajawali yang core-nya itu Bos…
    Ntar saya sempatin icip-icip kesana.
    Thx infonya ya..

  5. 5 . Comment by denny — February 23, 2008 @ 8:33 am

    Gravatar Image   

    kadang2 sekarang bahan daun semangginya diganti dengan daun ketela, karena semakin jarangnya/langkanya daun semanggi.

  6. 6 . Comment by tintin — February 26, 2008 @ 10:03 am

    Gravatar Image   

    kapan² pesen pak yah bawa ke [### sensor ###] ..




RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.