On Linggarjati
Akhirnya, setelah berjalan menanjak selama tiga puluh menit, sampai juga di Linggarjati. Kawasan ini terletak di tepian ruas jalan Cirebon-Kuningan. Dari pertigaan tadi, saya memilih arah lurus. "Dari situ, kira-kira tidak sampai dua ratus meter akan ditemui Gedung Linggarjati.", demikian kata seorang warga disana yang saya tanyai.
Gedung itu terletak di tepi jalan. Rasanya tak sulit mencapainya apabila menggunakan kendaraan umum.
Bergegas, saya memasuki gerbang masuknya. Ternyata gedung ini memiliki halaman yang sangat luas sekali. Cukup buat bermain bola hehehe….
"Bangunan museum berdiri diatas areal seluas 2,4 ha, dengan luas bangunan 800 m2 yang terdiri dari: ruang sidang, ruang sekretaris, kamar tidur Lord Killearn (Inggris), ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, kamar tidur delegasi Belanda, kamar tidur delegasi Indonesia, ruang makan, kamar mandi/WC, ruang setrika, gudang, bangunan paviliun, dan bangunan garasi."
(Sumber : Museum Kita)
Dulu, disekolah, pelajaran sejarah hanyalah sebatas menghapalkan tanggal. Tujuannya ? Biar dapet nilai 100 ! Hehehe… Saya tidak pernah menerima pengajaran lebih dari itu. Tidak ada yang mengajarkan passion dari sebuah sejarah. Apalagi manfaat dari belajar sejarah.
Bahwasanya sejarah dapat membuat kita hidup sebagai bangsa yang bijak dan arif, itu malah saya dapat tidak dari bangku sekolah. Tapi dari sumber lain. hahaha….
"Perundingan Linggarjati tidak terlepas dari latar belakang internasional. Setelah Jepang resmi menyerah di Tokyo 2 September 1945, Laksamana Mountbatten melaksanakan mandat untuk mengurusi wilayah Hindi-Belanda.
Mountbatten menentukan garis kebijakan, yakni tentara Inggris tidak akan campur tangan dalam perselisihan politik RI dan Belanda.
Sayang salah seorang Komandannya bertindak tidak bijaksana, dengan menyebarkan selebaran-selebaran ultimatum di Surabaya. Pertempuran besar pun meletus tanggal 10 Nopember 1945.
Perjanjian Linggarjati didahului oleh perundingan di HogeVoluwe, Negeri Belanda dari tanggal 14-24 April 1946, berdasarkan suatu rancangan yang disusun oleh Sjahrir, Perdana Mentri dalam Kabinet Sjahrir II.
Belanda bersedia menerima kehadiran Soekarno-Hatta dalam perundingan tersebut.
Bagi pihak Indonesia, keikut sertaan Soekarno-Hatta dalam perundingan merupakan suatu keberhasilan. Dunia luar akan memandang Republik Indonesia sebagai negara (meskipun belum diakui de jure), karena telah memenuhi syarat, yakni wilayah tertentu, pemerintah yang nyata yang dipimpin oleh seorang kepala negara (Presiden), kabinet dengan perdana mentrinya, dan adanya perwakilan rakyat (KNIP) dan adanya tentara regular. Tidak lagi seperti yang digambarkan oleh Belanda sebagai suatu pemberontakan beberapa “ekstrimis” yang dipimpin oleh “kolabor Jepang”. "
(Sumber : Lingarjati menuju dekolonisasi Indonesia)
"Jadi apa yang kau dapati disini ?", batinku bertanya.
Shame on me! saya belum ada kiprah apa-apa buat negeri ini!
"Mengapa dipilih Linggarjati ? Karena saat itu Belanda tidak mau bila perundingan berlokasi di Yogya, sementara Bung Karno dan Bung Hatta tidak bersedia bila perundingan di laksanakan di Jakarta.", tour guide menyudahi penjelasannya.
Dan lamunanku pun buyar.
" Sebelum menjadi Museum Perundingan Llinggajati bangunan ini berupa gubuk milik Ibu Jasitem (1918), kemudian pada tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi rumah semi permanen, pada tahun 1930-1935 setelah dibeli keluarga Van Ost Dome (bangsa Belanda) dirombak menjadi rumah tinggal seperti sekarang, kemudian pada tahun 1935 -1946) dikontrak Heiker (bangsa Belanda) dijadikan Hotel yang bernama Rus “Toord”. Keadaan ini berlanjut setelah Jepang menduduki Indonesia dan diteruskan setelah kemerdekaan Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang, hotel tersebut berubah namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 hotel ini diberi nama Hotel Merdeka. Jika diperhatikan, pembagian ruangan dalam Museum Perundingan Linggajati sekarang masih menyerupai pembagian ruangan untuk bangunan hotel. "
(Sumber : Museum Kita)
Linggarjati, ah.. sebuah pintu menuju dekolonisasi Indonesia.
Saya sangat gembira melihat bangunannya yang terawat baik dan bersih. Diorama suasana perundingan menyambut saya, seolah membantu otak udang saya merenkonstruksi bagaimana sejarah terbentuk. Kira-kira apa ya yang mereka rasakan ? Apa emosi yang sebenarnya mereka alami ?
Disalah satu ruangan kamar, saya dapati foto Ibu Maria Ulfah, menteri sosial pertama yang berasal dari Kuningan. Beliaulah yang mengusulkan kepada Sjahrir untuk memilih Linggarjati, yang pada saat itu merupakan sebuah tempat peristirahatan dekat Kuningan yang memiliki iklim nyaman dan tidak begitu jauh dari Jakarta.
Suasana di kamar itu terasa terang dan cerah. Berbeda dengan suasana di ruang perundingan yang terkesan kurang cahaya.

" Sayang, pelaksanaan hasil perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947, Gubernur Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I. Hal ini merupakan akibat dari perbedaan penafsiran antara Indonesia dan Belanda."
(Sumber : http://id.wikipedia.org)
Tautan Luar:
- TrekEarth
- MuseumKita
- Rommya
- Kurnia Effendi
- Kompas
- Perundingan Linggarjati di Wikipedia
- Perundingan Linggarjati di Wikisource
- Lingarjati menuju dekolonisasi Indonesia
Berbagi :
1 . Comment by fahmi! — February 25, 2008 @ 5:45 am
weee… melancong sampek jauh dirimu cak. jadi, udah bikin perundingan apa di linggarjati sono? janjian kopdar dg blogger? hehe
2 . Comment by geblek — February 25, 2008 @ 7:41 am
hahaha lagi mau buat partai blogger disana cak
3 . Comment by Jay — February 25, 2008 @ 7:45 pm
Hihihi, tahun 1991/92 jalan-jalan ke museum ini…
http://flickr.com/photos/yulianfh/849732609/
4 . Comment by dadan — February 25, 2008 @ 10:24 pm
@1,fahmi
terus terang mi, sebenarnya saya kesasar ! sampai keringet dingin keluar semua…hahaha…
@2, geblek
partai ? ndak ah.. takut repot
@3, Jay
eleuh… bedanya kelihatan banget ya dalam kurun waktu 91/92 - 2008 (busyet! satu dasawarsa lebih)
5 . Comment by tintin — February 26, 2008 @ 9:15 am
Wah .. setelah sekian lama blogwalking akhirnya nemu joga blognya orang [###
sensor
###] .. 
Gimana bos kabar’e …?? lagi agarap dimana sekarang ..?? kalo ke [###
sensor
###] oleh²nya yah boss .. 
Bang Fahmi .. mungkin bukan kopdar, apa cari gadis desa lagi nih ..??
—
@tintin : halo Bos ! Apakabar ? Sorry nama lembaga diatas saya sensor ya…. hehehe…. Harap maklum.
6 . Comment by agung — February 29, 2008 @ 6:19 pm
wah..wah..belajar sejarah kemerdekaan ya..
—
Numpang lewat mas.
mari..
Trims.
7 . Comment by kw — March 2, 2008 @ 10:05 pm
hi dadan, salam kenal. nice 2 meet u. yang benar linggarjati ya.. bukan linggajati?
8 . Comment by dadan — March 2, 2008 @ 10:21 pm
linggarjati atau linggajati ? dari referensi yang saya baca, keduanya memiliki versi cerita masing-masing.
Mungkin kali lain akan saya tulis
9 . Comment by xero — March 6, 2008 @ 5:22 pm
wah pengalaman berharga ni! bisa jalan2 ke linggarjati.
salam, first time visit ni hehehe
10 . Comment by Elyani — March 9, 2008 @ 1:00 pm
Mas Dadan,
Salam kenal, maaf sedikit OOT. Saya tertarik dengan artikel sembuh dari kanker. Kebetulan teman baik saya baru saja menjalani operasi kanker ovarium stadium 3 dan diharuskan kemo. Yang bersangkutan stress, takut, menolak mentah2 terapi kemo dan ingin mencoba terapi herbal saja. Mengingat banyaknya pengobatan herbal yg ada, kawan saya bingung produk mana yg harus dipilih. Mungkin saya boleh menghubungi Mas lebih lanjut via email (japri)? Siapa tau kawan saya ini berjodoh dengan pengobatan herbal seperti ibunda Mas Dadan. Terima kasih atas kesediaan Mas menjawab pertanyaan saya. Salam.
11 . Comment by dadan — March 10, 2008 @ 8:42 pm
Elyani : Hi Elyani.
Saya turut bersimpati dengan perjuanganmu. Silahkan menghubungi saya di : ini_alamat_emailku-blog@yahoo.co.id