Arek Surabaya ke Linggarjati
Pagi dingin yang berkabut dikaki Gunung Ciremai, dan matahari baru saja beranjak naik dari peraduannya. Angin dingin dan segar menerpa wajahku.
Aku berdiri didepan sebuah balong yang riuh dengan suara air mengalir.
Dua puluh lima kilometer dari kota Cirebon, dan kini saya berada di desa Kaliaren, Kabupaten Kuningan. Sebuah desa di lereng Gunung Ciremai. Sebuah desa dengan banyak balong, ikan dan air dalam jumlah melimpah.
Kontras dengan kota Cirebon di pesisir Pantai Utara Jawa yang panas (kayaknya hampir sama dengan Surabaya), disini terasa dingin. Hawa gunung. Maklumlah, kata orang, Gunung Ciremai adalah Gunung tertinggi di Jawa Barat. Puncaknya mencapai 3000 meter diatas permukaan laut.
Ah, dasar orang Surabaya ! Selalu mencari nikmatnya udara dingin.
Disebuah balong ditengah desa Kaliaren, terdapat jalan menanjak yang seolah-olah menuju langsung ke puncak gunung Ciremai. Jalan itu tidak terlalu lebar dan sepi. Lebarnya mungkin cukup besar untuk dilewati sebuah mobil. Dan tak banyak kendaraan yang lalu lalang disana. Sangat jarang sekali. Kalau malam mungkin masih ada begal yang menggunakan sepi dan gelapnya suasana untuk merampok orang.
Orang bilang jalan itu akan membawa kita ke Linggarjati. Disana saya bisa bertemu orang yang menjual serabi, mungkin.
Bayangan nikmatnya serabi memancing munculnya rasa lapar di perut. Pagi yang dingin dan rasa lapar, membuatku mengambil keputusan untuk menyusuri jalan tersebut. "Diujung sana ada penjual serabi. Dan engkau bisa makan sepuasmu," demikian otakku berkata menghibur.
Puncak Ciremai yang kokoh seolah tertawa melihatku.
Cukup jauh juga saya berjalan. Hingga disuatu tempat, hamparan lahan pertanian di lembah Ciremai menyajikan keindahannya. Menyejukkan otak dan jiwaku dari keruhnya Surabaya. Aku berhenti sejenak untuk meresapi indahnya pemandangan tersebut sepuas-puasnya.
Puncak Gunung Ciremai yang tinggi dan kokoh menimbulkan perasaan kerdil dalam diri saya, sekaligus damai. "Pemilikku dan pemiliknya adalah sama, Sang Maha Satu," batinku berteriak puas.
Rasa lapar dan dinginnya angin gunung di pagi hari menggoda saya untuk melanjutkan perjalanan ke Linggarjati.
Desa Linggarjati atau Desa Linggajati, terletak pada ketinggian 400 meter dari permukaan laut, 35 km dari Cirebon dan 17 km dari Kuningan. Desa ini diapit oleh tiga desa, yaitu di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Linggamekar, di sebelah utara berbatasan dengan Desa Linggaindah dan di sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai.
Sebagian masyarakat setempat percaya bahwasanya daerah Linggarjati adalah tempat bersejarah bagi penyebaran agama Islam. Linggajati, menurut mereka, artinya lingga yang terbuat dari kayu jati yang dulu pernah diduduki oleh Salah seorang wali songo, yaitu Sunan Gunung Jati.
Hehehe,.. rupanya Bung Karno dan Bung Hatta memiliki selera yang sama dengan Sunan Gunung Jati, candaku.
Lamunanku buyar setelah tiga puluh menit melangkah. Sebuah pertigaan jalan ada didepan saya. Rupanya sudah bukan jalan desa lagi. Banyak kendaraan hilir mudik disana… (bersambung).
Berbagi :
1 . Comment by geblek — February 25, 2008 @ 7:40 am
wow jalan ke mal sudah bosen larinya ke hutan
2 . Comment by tintin — February 26, 2008 @ 10:11 am
LAgi preian tah pak ..??