Kereta Singobarong
Kereta Kencana Singobarong ! Jauh-jauh hari sebelumnya saya telah mendengar kabar tentang kereta kencana paling modern dimasanya. Kereta ini hasil teknologi abad ke-14 yang telah menggunakan sistem suspensi. Dengan adanya teknologi sistem suspensi ini, penumpang kereta akan merasa lebih nyaman saat kereta tersebut melintasi jalanan yang tidak rata.
Bukan main,.. bayangkan sistem suspensi dari abad ke-14 (namun ada pula sumber yang menyebutnya berasal dari abad ke-17). Buatan dalam negeri sendiri lagi !
Rasa penasaran itu kini terjawab dengan hadirnya diriku di Keraton Kasepuhan Cirebon. Tepat didepan mataku, sosok gagah kereta modern dari masa lalu itu terpampang.
Menurut informasi sang pemandu wisata, tak hanya sistem suspensi saja yang dipasang pada kereta ini, ada pula sistem mekanik pada sepasang hiasan sayap kereta dan lidah. Bila kereta ini berjalan, sepasang sayap dan lidah tersebut tersebut akan bergerak-gerak.
Pada masa kekuasaan Cirebon dulu, kereta ini ditarik dengan menggunakan empat ekor kerbau putih, sebagai kendaraan Sultan. Kerata ini terakhir dipergunakan pada tahun 1942 (bukan main masa kerjanya, beberapa abad!). Setelah itu, hanya dipergunakan replikanya saja dalam setiap Festival Keraton Kasepuhan yang rutin diselenggarakan di Cirebon.
Kata barong dalam Singa Barong sendiri berasal dari kata barung. Artinya campuran, kombinasi, atau perpaduan. Falsafah ini terlihat dalam design seni kereta tersebut yang memadukan simbol budaya Hindu, Arab dan Cina.
Cirebon memiliki hubungan yang mesra dengan berbagai kerajaan besar dunia lainnya, pada saat kendaraan ini dirancang. Hubungan yang mesra ini mempengaruhi design estetis dari Kereta Singobarong. Belalai gajah (ganesha) pada kereta ini melambangkan persahabatan dengan Hindustan (Hindu), kepala tanduk naga (liong) melambangkan persahabatan dengan Tiongkok (Budha), dan berkuku singa serta berbadan kuda bersayap buroq melambangkan persahabatan dengan Mesir (Islam).
Informasi lebih lanjut yang saya dengar, pembangunan kereta ini dkerjakan pada masa pemerintahan Gusti Panembahan Pakungwati 1 (Pangeran Mas Mohamad Arifin), tahun 1549. Dengan arsiteknya adalah Panembahan Losari. Sementara kontributor lainnya adalah Ki Dalem Gebang Sepuh dan juru ukir Ki Nata Guna dari desa Kaliwulu. Sebagai karya seni budaya yang bernilai tinggi, singobarong mengisyaratkan makna, bahwasanya pemimpin itu mutlak harus selalu bersama-sama dengan rakyatnya. Dan sebagai manusia harus mengupayakan kejayaan dan membawa bangsa kedalam kesejahteraan dengan cara yang bijaksana, bukan dengan senjata.
Ha ! Cara yang bijaksana ! Suatu hal yang seharusnya menjadi dasar berpikir para pemangku kebijakan bangsa saat ini.
Berbagi :
1 . Comment by fahmi! — March 24, 2008 @ 1:08 am
wah keren itu udah ada suspensi segala. pake showa ato ohlins? hehe
2 . Comment by Vavai — March 24, 2008 @ 7:48 am
Lho, urang Cirebon ya mas ?
Pasti ke Kasepuhan waktu Panjang Jimat Mauludan kemarin ya ? Tiap tahun keluarga kami selalu ke Kasepuhan, baru tahun ini tidak kesana karena adik kandung saya menikah…
3 . Comment by dadan — March 24, 2008 @ 9:06 am
@fahmi
Iya, sistem suspensi-nya itu yang bikin saya pengen nulis
@vavai
Wah.. adiknya menikah ? Baraqallah… Selamat ya …
4 . Comment by Hedi — March 24, 2008 @ 10:18 am
lho ya terbukti…Indonesia ini sebenernya canggih kok
5 . Comment by lainsiji — March 24, 2008 @ 6:36 pm
ajip..
ga nyangka ternyata abad 14 or 17 udah ada y mikir bikin suspensi
*menyanyikan indonesia raya*
6 . Comment by tintin — March 25, 2008 @ 10:37 am
ini lanjutan dari linggarjati yah pak ..??
7 . Comment by Tumes_semuT — March 29, 2008 @ 1:15 am
kereta kencana paling modern dimasanya.liat seng teliti cak, sapa tau udah pake GPS tuh kereta singobarong