Presiden : Lawan Spekulan Tanah !
Hari Minggu ini adalah waktu peresmian Tol Simpang Susun Waru-Juanda. Tol yang membelah komplek perumahan saya menjadi dua bagian (bukan main bukan?). Jadi saya cukup tertarik mengikuti beritanya, terutama karena hilangnya fasilitas publik milik warga sekitar. "Kira-kira hasil apa ya, yang bakal diperoleh dari pengorbanan warga sekitar ?", demikian motif saya.
Tol tersebut Presiden sendiri yang meresmikannya. Diantara sambutan yang beliau sampaikan, ada yang menarik untuk saya catat :
- 1. Proyek pembangunan infrastuktur seringkali digerogoti spekulan tanah.
2. Spekulan tanah bersekongkol jahat dengan oknum pejabat
3. Modus jahatnya : menjebak dan memaksa pemilik asli sehingga bisa mereka beli dengan harga murah, dan menjualnya ke pemerintah dengan harga tinggi.
Saya kutip dari sini
:
…Seruan dengan intonasi suara tinggi ini merespon masih adanya spekulan tanah yang seringkali ‘bermain’ dalam pembebasan lahan proyek pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, tidak jarang proyek pembangunan infrastuktur penting negara terhambat lantaran ulah para spekulan tanah bahkan terhenti dalam waktu yang relatif cukup lama.
Kondisi ini, kata SBY, tidak bisa lagi dibiarkan karena masyarakat kecil pemilik lahanlah yang jadi korban. Mereka dijebak dan terpaksa menerima uang jual beli tanah dengan harga murah namun negara harus membeli tanah dari mereka dengan harga berkali-kali lipat harganya. Untuk itu SBY menyerukan perlawanan pada para spekulan tanah.
OH! Gitu ya ?? Setuju Pak!Peran spekulan tanah itu, kata Presiden, tak jarang berkonspirasi dengan para oknum pejabat negara sehingga sepak terjang mereka sulit dikendalikan. Kata Presiden, seharusnya para spekulan tanah hanya jadi catatan sejarah kelam di Indonesia. Mereka, lanjut Presiden, tidak boleh lagi dapat tempat di era reformasi…
Bagaimana bila harga yang pantas tersebut Bapak buka ke publik ? Biar transparan dan segenap masyarakat bisa ikutan berpartisipasi mengontrolnya ? Siapin aja payung hukum yang komplet sebagai platform sistem kontrolnya. Jangan lupa libatkan pula menkominfo untuk dukungan sistem internet, dan KPK untuk kontrol terhadap potensi korupsinya.
Sekalian auditor independent juga dilibatkan lo Pak… Dengan demikian, akan terjadi kompensasi yang fair antara negara dan rakyat.
Berbagi :
1 . Comment by dadan — April 27, 2008 @ 8:46 pm
John F. Kennedy pernah bilang, “Jangan pernah tanyakan kepada Negara apa yang telah Negara berikan kepadamu tetapi tanyakanlah pada dirimu apa yang telah engkau berikan kepada Negara”.
Jika mendengar sampai Presiden sendiri yang mengungkap keterlibatan oknum dalam kasus tersebut, rasanya ironi sekali.
2 . Comment by Epat — April 27, 2008 @ 8:56 pm
skrinsut TKP nya dong? :-D
3 . Comment by budiw — April 27, 2008 @ 8:57 pm
Wah, rumahnya diseputaran mana nih pak? Pondok candra?
–budiw
4 . Comment by eps — April 27, 2008 @ 9:34 pm
jadi ada pemndangan baru dong nih disekitaran ruang udara perumahan selain pesawat terbang
kira-2 polusi suara dipikirken tak ya?
5 . Comment by sawali tuhusetya — April 27, 2008 @ 11:19 pm
imbauan seorang pemimpin yang simapatik, mas dadan. semoga saja para spekulan mulai sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan selama ini telah merugikan banyak orang hanya untuk memburu keuntungan pribadi. salam hormat buat pak presiden!
6 . Comment by sufehmi — April 28, 2008 @ 6:15 am
Spekulan di Indonesia memang luar biasa gila dibandingkan di negara lain, karena membidik berbagai hajat hidup orang banyak & bisa beroperasi dengan cukup bebas.
Sampai semen saja bisa dispekulasikan, siapa sangka.
Belum lagi beras, gula, dst.
Ada orang mengeluh ke saya karena barang2 kelontong juga dispekulasikan — truk-truk barang mereka hentikan sebelum masuk kota,lalu mereka borong isinya.
Nah, kemudian para pedagang satu kota musti membeli dari mereka, tentu dengan harga yang lebih mahal.
Kawan saya juga ada yang bekerja di BPN, dan cerita dia sama persis dengan keluhan Presiden tsb. Pekerjaan dia membebaskan tanah bisa molor sampai bertahun-tahun karena para spekulan tsb.
Saay kira sudah saatnya sekarang spekulan diperlakukan sama dengan koruptor. Kalau perlu, buat juga KPK untuk spekulan.
Mau kaya sih boleh saja, tapi caranya yang bener dong. Masak dengan menimbun & menyusahkan semua orang, sadis.
7 . Comment by hanggadamai — April 28, 2008 @ 7:51 am
semoga para spekulan itu sadar ya..
8 . Comment by ario dipoyono — April 28, 2008 @ 10:40 am
pak presiden akhir2 ini kok sering marah ya
9 . Comment by Edi Psw — April 28, 2008 @ 11:25 am
Wah, repot juga ya kalau kompensasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Kasihan rakyat kecil nich.
10 . Comment by Edi Psw — April 28, 2008 @ 11:34 am
Wah, repot juga ya kalau kompensasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Kasihan rakyat kecil nich.
11 . Comment by lovesomatic — April 28, 2008 @ 10:17 pm
wehhh nyindir saia nihhh, anggota PKB (partai kebangkitan broker :mrgreen: )
12 . Comment by dadan — April 29, 2008 @ 5:17 pm
@epat
TKP yang adegan mana ? spekulan lagi beraksi ?
@budiw
yoi cak
@eps
polusi suara belum jadi isu. setidaknya hingga saat ini.
@sawali
betul pak! spekulan ini ibarat tumor dalam masyarakat kita.
@sufehmi
setuju mas! mengingat besarnya mudharat yang mereka timbulkan, saya rasa memang sudah selayaknya di berlakukan kondisi seperti itu.
Spekulan=Koruptor+Teroris
@hanggadamai
amin
@Edi PSW
yup
@lovesomatic
dark broker
13 . Comment by leah — April 30, 2008 @ 7:59 am
Ada pahlawan pasti ada penjahat. Prosedur dan dananya bener tapi orangnya yang ga bener hahaha
14 . Comment by warmorning — April 30, 2008 @ 8:56 am
ya, cari duit dengan caranya masing-masing, tp kok pa pres menyerukan perlawanan ? bukannya yg punya power utk memberantas all crime itu ‘die’ ye? ah macem-macem aja ntu bapak..
15 . Comment by mybenjeng — April 30, 2008 @ 11:07 am
it’s all about the money…
right…?