Saat hujan pertama turun

Bermula dari turunnya hujan segar di malang, yang merubah suasana garing menjadi suejuk dan menyegarkan. Nuansa alam mendadak terasa begitu romantis.

Dan kemudian membuatku "terbius dekapan mesra aroma Dji Sam Soe dan dinginnya hujan kota Malang, ditemani semerbak wangi tanah yang basah tersiram hujan.."

Pikiran melayang ke kota kelahiran, Surabaya.

Gimana ya Surabaya ? Ah, jadi ingin merasakan Curahan Hujan Untuk Kota Surabaya.

Ya.. bagiku, hujan memang romantis sekaligus mellow.

Namun saat teringat bila Surabaya selalu mati lampu dan banjir, sesaat setelah hujan pertama turun. Rasanya koq pengen …

Apalagi saat eneng ini bilang "surabaya dingin… yak, surabaya hujan!!! tapi listriknya pada mati "

Hehe.. Jadi teringat "film action yang di dubbing dengan bahasa Suroboyoan"

***

Jadi, demikianlah ceritanya. . Mengingatkan saya akan dua buah film lama. Film indie pendek mengenai grammar Suroboyoan [ Ep. 1 disini  dan Ep. 2 disini ]dari wak ikin, studio gatotkaca.

(Warning : Khusus buat dewasa dan berpotensi menyebabkan disorientasi lambe )


Berbagi :
Tambahkan Saat hujan pertama turun Tambahkan Saat hujan pertama turun Tambahkan Saat hujan pertama turun Tambahkan Saat hujan pertama turun Tambahkan Saat hujan pertama turun Tambahkan Saat hujan pertama turun Tambahkan Saat hujan pertama turun

Dua mega

Disuatu hari, terjadi kemacetan luar biasa, diseputar kediaman Ciganjur.

"He.. itu tolong di cek, kenapa koq ada kemacetan di depan kediaman kita.."

"Baik Gus…"


Dan sang cantrik pun berkelebat kedepan kediaman Ciganjur, mencari tahu, apakah gerangan yang sedang terjadi.

Lima menit kemudian, yang bersangkut telah kembali menghadap. Dengan laporan teraktual tentunya.

"Lapor Gus.. penyebabnya ternyata adalah adanya kegiatan petugas Telkom."

"Ngapain mereka di sana ??"

"Mereka sedang upgrade jalur jaringan, Gus.."

"Lha kenapa ? Emang jaringannya rusak ?"

"Bukan gitu Gus, katanya mau upgrade kapasitas. Biar lebih cepet. Dulu cuman 1 mega. Sekarang mau dibuat biar bisa 2 mega…"

"Udah,.. udah… suruh mereka berhenti. Lha wong saya satu Mega aja udah repot koq mau dibuat dua Mega…Gimana sih ??"


Berbagi :
Tambahkan Dua mega Tambahkan Dua mega Tambahkan Dua mega Tambahkan Dua mega Tambahkan Dua mega Tambahkan Dua mega Tambahkan Dua mega

Kolaborasi Menulis

Cerpenista memang memabukkan. Apalagi bulan Ramadhan kali ini.
Pulang taraweh hingga menjelang sahur, mataku bisa terpaku disana (momon memang terkutuk !).
Apalagi dengan baru digelarnya kontes cerpen berhadiah. Saya yakin, akan bertambah lagi jumlah sleepless night di bulan ini.
Gila deh.

***
Kemarin saya diajak juga berkolaborasi menulis cerpen. Kali ini dengan cerpenis cantik yang udah pernah nerbitin buku.
Terus terang saya mesam-mesem ke-ge-er-an berat.
Wah, la wong nulis cerpen aja baru di cerpenista, ini udah ada penulis beneran yang ngajakin kolaborasi. Siapa yang gak girang, coba ?
Hehehe….

Walhasil, lahirlah fragmen kedua dari Cerbung miliknya, "Man And The Beauty". Jreee…eeng !!
Kritik, cacian, makian dan flame atas semua kekurangan dari bagian kedua ini, silahkan ditimpakan pada saya.

Ohya, silahkan kalo ingin berkunjung ke blognya, sang angin berbisik!

Jadi, apa kesimpulan dini untuk sebuah kolaborasi menulis cerpen ?
Seperti jam session ! Tentunya oom ini lebih paham istilah tersebut.


Berbagi :
Tambahkan Kolaborasi Menulis Tambahkan Kolaborasi Menulis Tambahkan Kolaborasi Menulis Tambahkan Kolaborasi Menulis Tambahkan Kolaborasi Menulis Tambahkan Kolaborasi Menulis Tambahkan Kolaborasi Menulis