Selama empat tahun yang lalu saya menjadi pelanggan setia XL. Sejujurnya, selama itu tak ada keluhan. Hingga akhirnya XL mulai ikut jor-joran harga dan kualitas layanan (bagi saya) mulai menurun.
Kian lama rasanya kian sulit untuk bertahan dengan kondisi tersebut. Hingga akhirnya paket xl megadata saya resign. Beberapa minggu kemudian XPlor pun saya downgrade ke XL bebas. Strategi ini saya tempuh, agar nomor XL lama saya masih bisa menerima informasi dari customer yang belum sempat saya update. Disamping itu, XL bebas rasanya jauh lebih diperhatikan dibanding XPlor. Terutama dari segi price. Asumsi saya demikian.
Seperti dalam posting sebelumnya, saya sering mengalami gagal panggil dan sulit menerima panggilan dari luar. Kualitas suara rada jembret, tak sebening dulu. Seringkali panggilan sukses, namun tak ada komunikasi yang bisa terjalin.
Dengan terpaksa saya beralih ke operator lain. Pilihan saya jatuh ke telkomsel halo hibrid. Prosesnya sangat cepat, tak sampai satu kali dua puluh empat jam kartu halo saya sudah aktif. Ini karena saya menempuh opsi autodebet sehingga tidak melalui proses survey, seperti direkomendasikan CS setempat (Grapari HR Muhammad Surabaya). Saat itu saya meminta quota 200 ribu/bulan dulu.
Awalnya saya gembira dengan layanan telkomsel halo hibrid. Komunikasi bisa terjalin dan proses aktifasinya pun cepat sekali. Namun tak lama, ketika billing sudah mencapai 75 ribu, saya terhubung sering ke automatic voice message yang mengabarkan bila saya hampir mendekati limit. Konfirmasi ke CS via 111, mengatakan bahwa quota saya hanya di approve 100 ribu dulu. Tiga bulan kemudian baru akan di approve penambahan quotanya. (Tiga bulan ? Bayangin …)
(more…)
Berbagi :