End of Journey
Akhirnya… dengan berat hati, kuputuskan untuk berpindah ke alamat baru : http://roedjaktjingoer.co.cc .
Farewell blogsome, terimakasih atas semuanya.
Rekan, sampai jumpa dialamat baru, ya ..
Berbagi :
Akhirnya… dengan berat hati, kuputuskan untuk berpindah ke alamat baru : http://roedjaktjingoer.co.cc .
Farewell blogsome, terimakasih atas semuanya.
Rekan, sampai jumpa dialamat baru, ya ..
Sejak dulu saya paling ogah kalo pesen makanan di hotel. Kenapa ? Belajar yang sudah-sudah, kesan yang menancap diotak saya adalah menu hotel itu mahal. Karena itu gak cocok dengan lidah saya. hehehe..
Memang ada beberapa perkecualian, seperti Hotel Ibis (**bletak!!** borjou..)
Nah kali ini, saya sedang indekos di Guest House Brawijaya, Malang. Karena suatu sebab, saya khilaf melanggar pantangan ritual untuk tidak memesan menu hotel. Walhasil, terpesanlah seporsis sup kepiting asparagus.
Tak sangka, ternyata rasanya cukup lumayan, untuk bisa diterima di lidah rewelku . Harganya pun cukup murah Rp 12.000 belum termasuk PPN hehe.. Daging kepitingnya lumayan melimpah dengan rasa kuah (saat itu) membuat lidah bergoyang. Kental, hangat dan … sluurp..

Dimana makan murah-meriah tapi OK punya di sini (dekat Soekarno-Hatta, Malang) ? Sebagian mahasiswi rekan disini akan menjawab serempak, "Cak Pi’i !!!"
Dan, okeylah, kuikuti saran mereka. Terutama karena ning ini juga turut merekomendasikan.
Berlokasi di sebuah ruko berlantai dua di tepian jalur Soekarno Hatta (sebelah kiri jalan dari arah Univ. Brawijaya), Resto Cak Pi’i hadir dengan masakan goreng tepungnya yang terkenal. Rasanya cukup lezat, dengan kebersihan tempat yang cukup terjaga. Harga relatif murah, kira-kira setara dengan Kampung Steak. Berkisar 8500-13000 rupiah perporsi.

Bermula dari turunnya hujan segar di malang, yang merubah suasana garing menjadi suejuk dan menyegarkan. Nuansa alam mendadak terasa begitu romantis.
Dan kemudian membuatku "terbius dekapan mesra aroma Dji Sam Soe dan dinginnya hujan kota Malang, ditemani semerbak wangi tanah yang basah tersiram hujan.."
Pikiran melayang ke kota kelahiran, Surabaya.
Gimana ya Surabaya ? Ah, jadi ingin merasakan Curahan Hujan Untuk Kota Surabaya.
Ya.. bagiku, hujan memang romantis sekaligus mellow.
Namun saat teringat bila Surabaya selalu mati lampu dan banjir, sesaat setelah hujan pertama turun. Rasanya koq pengen … ![]()
Apalagi saat eneng ini bilang "surabaya dingin… yak, surabaya hujan!!! tapi listriknya pada mati "
Hehe.. Jadi teringat "film action yang di dubbing dengan bahasa Suroboyoan"
Jadi, demikianlah ceritanya.
. Mengingatkan saya akan dua buah film lama. Film indie pendek mengenai grammar Suroboyoan [ Ep. 1 disini dan Ep. 2 disini ]dari wak ikin, studio gatotkaca.
(Warning : Khusus buat dewasa dan berpotensi menyebabkan disorientasi lambe
)
Disuatu hari, terjadi kemacetan luar biasa, diseputar kediaman Ciganjur.
"He.. itu tolong di cek, kenapa koq ada kemacetan di depan kediaman kita.."
"Baik Gus…"
Lima menit kemudian, yang bersangkut telah kembali menghadap. Dengan laporan teraktual tentunya.
"Lapor Gus.. penyebabnya ternyata adalah adanya kegiatan petugas Telkom."
"Ngapain mereka di sana ??"
"Mereka sedang upgrade jalur jaringan, Gus.."
"Lha kenapa ? Emang jaringannya rusak ?"
"Bukan gitu Gus, katanya mau upgrade kapasitas. Biar lebih cepet. Dulu cuman 1 mega. Sekarang mau dibuat biar bisa 2 mega…"
"Udah,.. udah… suruh mereka berhenti. Lha wong saya satu Mega aja udah repot koq mau dibuat dua Mega…Gimana sih ??"